Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

pasca@iainmadura.ac.id

Komunitas yang Tak Tergerus Zaman: Solidaritas Ramadhan Muslim Madura di Tengah Hiper-Konektivitas

  • Diposting Oleh Admin Web Pascasarjana
  • Rabu, 4 Maret 2026
  • Dilihat 43 Kali
Bagikan ke

Ramadhan di Madura selalu menghadirkan lanskap sosial yang khas: masjid dan surau penuh, anak-anak membawa mushaf selepas maghrib, suara bedug dan pengeras suara menyatu dengan angin laut. Namun di balik suasana yang tampak tradisional itu, masyarakat Madura hari ini hidup dalam dunia yang terkoneksi. Gawai pintar ada di tangan hampir setiap remaja, grup WhatsApp jamaah aktif setiap malam, dan donasi zakat dapat ditransfer dalam hitungan detik. Pertanyaannya: di tengah digitalisasi yang kian masif, bagaimana solidaritas sosial tetap kokoh?

Dari perspektif sosiologi agama, Ramadhan di Madura memperlihatkan bahwa modernitas tidak selalu melahirkan individualisme. Sebaliknya, ia dapat memperkuat jaringan komunal ketika nilai-nilai tradisional memiliki fondasi yang kuat. Salah satu simbol terpenting dari fondasi itu adalah praktik tarawih 23 rakaat yang menjadi identitas tradisionalis warga yang secara kultural berafiliasi dengan Nahdliyin

Bagi masyarakat Muslim Madura, tarawih 23 rakaat bukan sekadar pilihan fikih, melainkan simbol kontinuitas tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Di banyak desa, jamaah tetap bertahan mengikuti seluruh rangkaian tarawih dan witir hingga selesai, meski waktu semakin larut. Anak-anak belajar berdiri dalam saf, remaja mendapat giliran menjadi bilal, dan para orang tua menjaga ritme ibadah kolektif.

Secara sosiologis, praktik ini menciptakan apa yang disebut sebagai “ritual solidarity”. Pengulangan gerak dan bacaan dalam durasi panjang membangun rasa kebersamaan yang mendalam. Tubuh-tubuh yang berdiri sejajar setiap malam melampaui sekat ekonomi dan status sosial. Di era digital, ketika interaksi sering kali tereduksi menjadi pesan singkat, pengalaman fisik berjamaah seperti ini justru menjadi jangkar identitas.

Menariknya, sebagian masjid kini menyiarkan tarawih melalui live streaming. Namun siaran itu tidak menggantikan kehadiran fisik; ia hanya memperluas jangkauan. Jamaah yang merantau tetap dapat merasakan atmosfer kampung halaman, memperlihatkan bagaimana teknologi mendukung—bukan meruntuhkan—ikatan komunal.

Selain tarawih, tadarus kolektif menjadi denyut nadi Ramadhan Madura. Seusai salat, kelompok-kelompok kecil duduk melingkar membaca Al-Qur’an secara bergiliran. Di beberapa tempat, target khataman ditentukan sejak awal bulan. Aktivitas ini bukan hanya ibadah individual, melainkan ruang pendidikan sosial.

Dalam lingkaran tadarus, anak-anak belajar membaca dengan bimbingan yang lebih tua, remaja belajar disiplin hadir setiap malam, dan orang dewasa menguatkan komitmen moral. Tradisi ini membentuk habitus religius—kebiasaan kolektif yang menanamkan nilai kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab.

Di tengah masyarakat yang terdigitalisasi, tadarus tetap berlangsung secara tatap muka. Namun teknologi kembali hadir sebagai penguat. Jadwal khataman dibagikan melalui grup pesan, pengingat giliran membaca dikirim secara daring, dan dokumentasi khataman diunggah sebagai arsip kolektif. Digitalisasi di sini berfungsi administratif dan simbolik, tanpa menghilangkan esensi perjumpaan langsung.

Transformasi paling terasa mungkin terjadi pada praktik zakat dan sedekah. Jika dahulu pengumpulan zakat sepenuhnya dilakukan secara manual melalui panitia masjid, kini banyak lembaga lokal menyediakan opsi transfer bank atau dompet digital. Kampanye sedekah Ramadhan menyebar melalui media sosial, lengkap dengan laporan transparansi.

Dari sudut pandang sosiologi agama, ini menunjukkan pergeseran medium tanpa perubahan nilai. Solidaritas tetap menjadi inti. Platform digital hanya mempercepat distribusi dan memperluas partisipasi. Seorang perantau di Jakarta atau Malaysia dapat menyalurkan zakatnya langsung ke kampung halaman dalam hitungan menit.

Namun, masyarakat Madura umumnya tetap mempertahankan dimensi tatap muka dalam distribusi. Pembagian zakat fitrah menjelang Idul Fitri masih menjadi momen perjumpaan sosial. Warga saling mengenal penerima, memastikan bantuan tepat sasaran. Digitalisasi tidak menghapus relasi personal; ia justru memperkuatnya dengan sistem yang lebih efisien.

Struktur sosial Ramadhan Muslim Madura tidak dapat dilepaskan dari relasi antara kiai, santri, dan masyarakat. Kiai menjadi figur sentral, bukan hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam membangun arah moral komunitas. Ceramah tarawih, nasihat menjelang sahur, hingga arahan pengelolaan zakat mencerminkan otoritas moral tersebut.

Santri, baik yang masih mondok maupun alumni pesantren, berperan sebagai jembatan generasi. Mereka aktif mengorganisasi kegiatan Ramadhan, dari tadarus hingga bakti sosial. Sementara masyarakat menjadi basis partisipasi yang memastikan tradisi tetap hidup.

Dalam dunia yang terkoneksi, relasi ini mengalami perluasan, bukan pelemahan. Kiai kini juga hadir di ruang digital melalui pengajian daring atau potongan ceramah di media sosial. Santri mengelola konten dakwah dengan pendekatan visual yang lebih menarik. Namun otoritas tetap berakar pada keilmuan dan keteladanan, bukan sekadar popularitas.

Kasus Ramadhan Madura memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak selalu identik dengan disintegrasi sosial. Ketika komunitas memiliki modal budaya dan religius yang kuat, teknologi dapat diintegrasikan tanpa merusak struktur dasar. Tarawih 23 rakaat menjaga identitas, tadarus membentuk karakter, zakat digital memperluas solidaritas, dan relasi kiai-santri-masyarakat mempertahankan ekosistem moral.

Dalam perspektif global, pengalaman ini relevan bagi banyak komunitas Muslim yang menghadapi tantangan serupa. Di tengah arus individualisme dan hiper-konektivitas, Ramadhan Madura menunjukkan bahwa kesalehan komunal masih mungkin dipertahankan. Bahkan, ia dapat menemukan bentuk baru yang lebih adaptif.

Akhirnya, Ramadhan di Madura bukan sekadar ritual tahunan, melainkan laboratorium sosial. Ia membuktikan bahwa komunitas religius tradisional mampu berdialog dengan zaman. Di dunia yang semakin terkoneksi, kesalehan komunal tidak pudar—ia justru menemukan cara baru untuk bersinar. (HNF & BLQ)II

Oleh : Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd

(Guru Besar Kepemimpinan & Direktur Pascasarjana UIN Madura )