Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

pasca@iainmadura.ac.id

Jejak Spiritual di Balik Sarabhiyân dan Polotanan; Tradisi Kuliner Madura Menyambut Malam-Malam Ganjil

  • Diposting Oleh Admin Web Pascasarjana
  • Selasa, 17 Maret 2026
  • Dilihat 39 Kali
Bagikan ke

Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd

(Guru Besar Kepemimpinan dan Direktur Pascasarjana UIN Madura)

Di banyak daerah di Nusantara, bulan Ramadhan bukan hanya momentum ibadah yang bersifat individual, tetapi juga ruang perjumpaan antara agama dan budaya. Nilai-nilai spiritual dalam Islam sering kali hadir melalui tradisi lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Madura, salah satu tradisi yang masih hidup hingga kini adalah penyajian sarabhiyân (kue serabi khas Madura) dan polotanan—olahan ketan—pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas kuliner, tetapi menjadi bagian dari ekspresi spiritual masyarakat dalam menyambut kemungkinan turunnya malam Lailatul Qadar.

Di banyak desa di Madura, menjelang malam ganjil Ramadhan—seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29—(salekoran, saqemi’an), dapur-dapur rumah mulai hidup lebih lama dari biasanya. Perempuan-perempuan menyiapkan adonan sarabhi dari tepung beras dan santan, sementara ketan dimasak menjadi berbagai olahan yang dikenal sebagai polotanan. Makanan ini kemudian dibagikan kepada tetangga, kerabat, atau dibawa ke surau dan musholah setelah salat tarawih. Aktivitas sederhana ini membangun suasana kebersamaan sekaligus menjadi simbol harapan agar masyarakat mendapat keberkahan malam Lailatul Qadar.

Bagi masyarakat Madura, sarabhiyan dan polotanan tidak sekadar makanan berbuka atau camilan malam. Ia menjadi penanda waktu spiritual. Malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan dipahami sebagai waktu yang istimewa, ketika umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan sedekah. Tradisi kuliner ini menjadi cara masyarakat menghadirkan nilai berbagi dan solidaritas dalam konteks ibadah tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana agama hidup dan berakar dalam budaya lokal. Sosiolog Muslim Indonesia Kuntowijoyo pernah menekankan bahwa agama dalam masyarakat Indonesia tidak hanya hadir dalam bentuk ajaran normatif, tetapi juga dalam praktik sosial dan budaya sehari-hari. Ia menyebutnya sebagai proses kulturalisasi agama—ketika nilai-nilai Islam diterjemahkan melalui simbol, tradisi, dan kebiasaan masyarakat setempat.

Dalam kerangka ini, tradisi sarabhiyân dan polotanan dapat dipahami sebagai bentuk kulturalisasi nilai sedekah dan silaturahmi. Makanan yang dibagikan pada malam-malam ganjil bukan hanya wujud keramahan sosial, tetapi juga bagian dari upaya spiritual untuk memperbanyak amal kebajikan. Melalui makanan sederhana yang dibuat di dapur rumah, masyarakat menghadirkan praktik keagamaan yang bersifat kolektif.

Budayawan Nasional dari Madura Kyai Zawawi Imron sering menggambarkan kehidupan masyarakat Madura sebagai kehidupan yang sederhana tetapi kaya makna. Dalam berbagai puisi dan refleksi budayanya (Bantalku Ombak Selimutku Angin, 1996 dan Semerbak Mayang), ia menampilkan kehidupan desa, relasi keluarga, serta tradisi lokal sebagai ruang tumbuhnya nilai spiritual dan solidaritas sosial, ia juga menekankan bahwa tradisi lokal bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas tumbuh. Bagi Zawawi Imron, dapur dalam rumah masyarakat Madura sering kali menjadi pusat kehidupan sosial—tempat berbagi cerita, menyiapkan makanan, sekaligus merawat hubungan dengan sesama.

Tradisi membuat sarabhiyân dan polotanan pada malam-malam ganjil Ramadhan mencerminkan semangat tersebut. Aktivitas memasak bersama di rumah atau di lingkungan tetangga tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial. Dalam masyarakat yang secara historis dikenal memiliki solidaritas kuat, tradisi berbagi makanan menjadi simbol bahwa keberkahan Ramadhan seharusnya dirasakan bersama.

Namun seperti banyak tradisi lokal lainnya, praktik ini juga menghadapi tantangan di era modern. Perubahan pola hidup, urbanisasi, dan gaya hidup yang semakin praktis membuat sebagian generasi muda tidak lagi mengalami tradisi ini secara langsung. Banyak keluarga yang kini memilih membeli makanan siap saji daripada memasaknya bersama di rumah. Di beberapa kota, tradisi berbagi sarabhiyân bahkan mulai jarang terlihat.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana globalisasi dapat mempengaruhi praktik budaya lokal. Namun, hilangnya bentuk ritual tidak selalu berarti hilangnya nilai. Tantangan terbesar justru bagaimana generasi muda dapat memahami makna di balik tradisi tersebut. Jika sarabhiyân dan polotanan dipahami sekadar sebagai makanan tradisional, maka ia mudah tergantikan oleh bentuk kuliner lain. Tetapi jika dipahami sebagai simbol berbagi, kebersamaan, dan doa kolektif, maka nilai tersebut masih bisa dipertahankan dalam berbagai bentuk.

Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting. Banyak tradisi budaya sebenarnya diwariskan melalui pengalaman sederhana di rumah. Anak-anak yang sejak kecil melihat orang tuanya membuat sarabhiyân, membungkus polotan, lalu mengantarkannya ke tetangga akan memahami bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang merawat hubungan sosial.

Komunitas lokal juga memiliki peran strategis dalam menjaga tradisi ini tetap hidup. Di beberapa desa di Madura, kelompok pemuda dan pengurus musholah mulai menghidupkan kembali tradisi malam ganjil dengan kegiatan bersama seperti doa dan i’tikaf, pengajian. Dalam kegiatan semacam ini, sarabhiyân dan polotanan tidak hanya menjadi hidangan, tetapi juga simbol identitas budaya yang menyatukan masyarakat.

Pada akhirnya, tradisi kuliner seperti ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak selalu hadir dalam bentuk ritual yang formal. Ia juga hidup dalam tindakan sehari-hari yang sederhana—memasak, berbagi makanan, dan berkumpul bersama tetangga. Dalam sarabhiyân yang hangat dan ketan polotan yang lengket, tersimpan pesan tentang kedekatan manusia dengan sesamanya.

Ramadhan selalu menghadirkan ruang refleksi bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun di Madura, perjalanan spiritual itu juga ditemani aroma dapur dan tradisi berbagi. sarabhiyân dan polotanan menjadi pengingat bahwa mencari keberkahan malam Lailatul Qadar tidak hanya dilakukan melalui doa yang panjang, tetapi juga melalui tangan-tangan yang dengan tulus menyiapkan makanan untuk dibagikan kepada sesama.

Artikel ini telah dimuat di Koran Madura pada 16 Maret 2026; https://kabarmadura.id/jejak-spiritual-di-balik-sarabhiyan-dan-polotanan-tradisi-kuliner-madura-menyambut-malam-malam-ganjil/