Guru Besar UIN Madura: Tradisi Lebaran Ketupat Simbol Kebersamaan dan Rasa Syukur
- Diposting Oleh Admin Web Pascasarjana
- Rabu, 1 April 2026
- Dilihat 14 Kali
Tradisi lebaran ketupat di Kabupaten Pamekasan, atau di Madura pada umumnya, sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Guru Besar Kepemimpinan dan Pendidikan Islam UIN Madura, Prof. Dr. H. Atiqullah, menyampaikan ada makna kebersamaan dan bentuk rasa syukur di balik tradisi lebaran ketupat masyarakat Madura. "Momen lebaran ketupat bukan sekadar menyantap ketupat, tetapi menjadi perayaan sosial yang sarat makna spiritual dan kultural. Simbol kebersamaan dan bentuk rasa syukur," katanya, Kamis (26/3/2026). Menurut dia, tradisi ini biasanya dirayakan beberapa hari setelah Idul Fitri, tepatnya setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Lebaran ketupat merupakan ruang budaya tempat masyarakat mengekspresikan nilai kebersamaan, solidaritas, dan identitas lokal di Jawa dan Madura. "Makna Lebaran Ketupat juga tidak lepas dari simbolisme ketupat itu sendiri. Ketupat yang dibuat dari anyaman daun kelapa muda atau janur melambangkan kesederhanaan sekaligus kerumitan hidup manusia," ujarnya.
Direktur Pasca Sarjana UIN Madura ini menegaskan bahwa tradisi ketupat atau Ketupa'an (Bahasa Madura) dipahami sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur setelah menjalani rangkaian ibadah Ramadhan dan puasa Syawal. Masyarakat Madura merayakannya tidak sekadar memasak ketupat, tetapi juga berbagi hidangan dengan tetangga, kerabat, dan tamu yang datang. "Aktivitas ini mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas sosial yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir dan agraris di Madura," katanya.
Penneliti Budaya dan Organisasi Pesantren ini menambahkan, dalam perspektif sosiologi agama, tradisi ketupat menunjukkan bagaimana agama dan budaya saling berinteraksi. "Sosiolog Muslim Indonesia, Kuntowijoyo, pernah menegaskan bahwa agama di Indonesia tidak hanya hadir dalam bentuk ajaran normatif, tetapi juga dalam praktik budaya sehari-hari. Dia menyebut fenomena ini sebagai proses kulturalisasi agama, yaitu ketika nilai-nilai Islam dihayati dan diekspresikan melalui tradisi lokal," ujarnya. Di balik tradisi ketupat ada ajaran tentang silaturahmi, syukur, dan berbagi dan diterjemahkan dalam bentuk tradisi masyarakat.
Menurut Atiqullah, di berbagai daerah di Jawa dan Madura, tradisi lebaran ketupat dirayakan dengan cara yang beragam. Di beberapa desa, masyarakat mengadakan selamatan bersama dengan membawa ketupat, opor ayam, atau hidangan khas lainnya untuk dimakan secara kolektif. Ada pula tradisi arak-arakan ketupat, pasar rakyat, hingga kegiatan sosial yang melibatkan warga desa. Selain itu, sebagian masyarakat juga melakukan ziarah kubur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan refleksi spiritual tentang kehidupan.
"Dalam anyaman daun kelapa yang sederhana, tersimpan pesan tentang kerendahan hati, kebersamaan, serta kesediaan manusia untuk saling memaafkan," pungkasnya. Untuk diketahui, tradisi lebaran Ketupat dirayakan pada sepekan setelah Lebaran Idul Fitri 1 Syawal, atau pada 8 Syawal yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 28 Maret 2026.
Artikel ini telah dipublikasikan di Kompas. com link https://surabaya.kompas.com/read/2026/03/26/182830278/guru-besar-uin-madura-tradisi-lebaran-ketupat-simbol-kebersamaan-dan-rasa#google_vignette.