Harmoni dalam Perbedaan; Hikmah Sosial di Balik Berbedanya Hari Raya Idulfitri 1447 H
- Diposting Oleh Admin Web Pascasarjana
- Rabu, 25 Maret 2026
- Dilihat 39 Kali
Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd, Guru Besar Kepemimpinan dan Direktur Pascasarjana UIN Madura.
Perayaan Idul fitri 1447 H. di Indonesia kembali diwarnai perbedaan penetapan hari raya. Sebagian umat merayakan lebih dahulu, sementara sebagian lainnya menyusul keesokan harinya. Fenomena ini bukan hal baru, namun selalu menghadirkan dinamika yang menarik di tengah masyarakat. Ada yang merasa bingung, terutama bagi mereka yang hidup di lingkungan majemuk. Namun, tak sedikit pula yang menyikapinya dengan lapang dada, bahkan menjadikannya sebagai momentum memperkuat toleransi.
Artikel ini telah terbit di Koran Madura pada 20 Maret 2026 Link https://kabarmadura.id/harmoni-dalam-perbedaan-hikmah-sosial-di-balik-berbedanya-hari-raya-idulfitri-1447-h/
Dalam perspektif sosiologis, perbedaan ini berakar dari keragaman metode dalam menentukan awal bulan Hijriah. Sebagian menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi), sementara yang lain berpegang pada rukyat (pengamatan langsung hilal). Dua pendekatan ini sama-sama memiliki landasan ilmiah dan keagamaan. Di Indonesia, perbedaan ini seringkali terasosiasi dengan organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama yang cenderung menggunakan rukyat, serta Muhammadiyah yang mengedepankan hisab.
Perbedaan tersebut tidak semata-mata soal metode, tetapi juga mencerminkan tradisi keilmuan yang telah berkembang lama. Setiap organisasi memiliki otoritas keagamaan dan basis jamaah yang mempercayai ijtihad ulama masing-masing. Dalam kajian sosiologi agama, hal ini menunjukkan bahwa agama tidak hanya dipahami sebagai doktrin, tetapi juga sebagai praktik sosial yang hidup dan berkembang dalam komunitas.
Di tingkat masyarakat, perbedaan hari raya menghadirkan dinamika tersendiri. Dalam satu keluarga, bisa saja terdapat anggota yang mengikuti keputusan berbeda. Di beberapa kampung, masjid satu dan lainnya melaksanakan shalat Id pada hari yang tidak sama. Situasi ini berpotensi menimbulkan gesekan kecil, terutama jika diiringi sikap saling menyalahkan. Namun menariknya, masyarakat Indonesia umumnya memiliki kearifan lokal dalam menyikapi hal ini.
Banyak keluarga yang tetap menjaga keharmonisan dengan saling menghormati pilihan masing-masing. Ada yang memilih “dua kali Lebaran” sebagai bentuk penghormatan, ada pula yang tetap bersilaturahmi tanpa mempersoalkan perbedaan. Ini menunjukkan bahwa nilai kekeluargaan dan gotong royong masih menjadi perekat sosial yang kuat.
Dari sini, kita dapat mengambil hikmah penting. Perbedaan justru menjadi sarana untuk menguatkan toleransi di kalangan umat Islam sendiri. Toleransi tidak hanya relevan dalam hubungan antaragama, tetapi juga di dalam internal umat. Kedewasaan beragama tercermin dari kemampuan menerima perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat kepada sesama.
Dalam khazanah Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang asing. Para ulama sejak dahulu telah memberikan teladan dalam menyikapi ikhtilaf. Imam Syafi’i pernah menyatakan, “Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.” Ungkapan ini mencerminkan kerendahan hati intelektual dan ke-ulamaan serta keterbukaan terhadap perbedaan.
Bahkan, terdapat ungkapan yang populer di kalangan ulama, “Ikhtilafu ummati rahmah” (perbedaan di antara umatku adalah rahmat). Meskipun status hadis ini diperdebatkan, maknanya sejalan dengan semangat Islam yang menghargai keragaman ijtihad. Rasulullah ﷺ sendiri dalam beberapa kesempatan membiarkan perbedaan sahabat dalam memahami suatu perintah, tanpa langsung menyalahkan salah satu pihak.
Secara sosiologis, perbedaan merupakan keniscayaan dalam setiap masyarakat. Indonesia sebagai bangsa yang plural—baik dari sisi budaya, suku, maupun pemahaman keagamaan—memiliki potensi besar untuk mengalami perbedaan. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjadi modal sosial untuk memperkuat persatuan.
Dalam konteks Idul fitri, perbedaan hari raya ini dapat dilihat sebagai “latihan sosial” dalam membangun toleransi. Masyarakat belajar untuk menahan ego, mengedepankan empati, dan menjaga harmoni. Ini adalah proses penting dalam membangun kohesi sosial yang kokoh.
Lebih jauh, perbedaan ini juga mengajarkan bahwa substansi Idul fitri bukan terletak pada keseragaman waktu, melainkan pada nilai-nilai (values) yang dikandungnya: saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan kembali kepada kesucian hati(fitrah). Jika nilai-nilai ini terwujud, maka perbedaan tanggal menjadi tidak lagi relevan untuk diperdebatkan.
Pada akhirnya, kita diajak untuk melihat perbedaan dengan cara pandang yang lebih jernih. Perbedaan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari dinamika kehidupan yang harus diterima dengan bijak. Dalam masyarakat yang dewasa, perbedaan justru menjadi sumber kekayaan, bukan pemecah belah.
Idulfitri 1447 H. ini dapat menjadi momentum refleksi bagi kita semua. Bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan untuk saling memahami. Bahwa persatuan tidak berarti harus sama, melainkan tetap bersama dalam perbedaan.
Dengan demikian, mari kita rayakan Lebaran—kapan pun harinya—dengan hati yang lapang. Menjadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan perpecahan. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah kapan kita merayakan, tetapi bagaimana kita menjaga persaudaraan, karena itu arti kemenangan yang sebenarnya. Semoga kita dijadikan hamba yang muttaqien. Amien Yaa rabbal ‘alamien.
Artikel ini telah terbit di Koran Madura pada 20 Maret 2026 Link https://kabarmadura.id/harmoni-dalam-perbedaan-hikmah-sosial-di-balik-berbedanya-hari-raya-idulfitri-1447-h/